Dalam lanskap geopolitik yang dinamis, perbincangan mengenai kapabilitas militer kerap menjadi sorotan. Salah satu senjata yang paling banyak dibicarakan adalah GBU-43/B Massive Ordnance Airblast (MOAB), atau yang lebih dikenal dengan julukan “Mother of All Bombs”. Bom non-nuklir terbesar dalam arsenal Amerika Serikat ini kembali mencuat ke permukaan di tengah spekulasi dan analisis potensi konflik, termasuk kemungkinan penggunaannya dalam skenario tertentu seperti dugaan serangan ke Iran. Publik bertanya-tanya, seberapa dahsyat sebenarnya daya hancur Mother of All Bombs ini dan bagaimana mekanisme kerjanya?
Mother of All Bombs adalah bom konvensional dengan kekuatan ledakan yang luar biasa, dirancang untuk menghancurkan target area luas atau struktur yang diperkuat seperti bunker dan terowongan. Dikembangkan oleh Amerika Serikat, senjata ini bukanlah bom nuklir, namun memiliki kemampuan destruktif yang dapat disamakan dengan ledakan tingkat rendah.
MOAB memiliki berat sekitar 21.600 pon atau setara 9.797 kilogram, dengan 18.700 pon (8.500 kg) di antaranya merupakan bahan peledak tinggi H6. Bom ini dijatuhkan dari pesawat angkut MC-130 Hercules, bukan dari pesawat tempur, karena ukurannya yang masif. Desainnya yang unik memungkinkan bom ini untuk dilepaskan dari belakang pesawat dengan bantuan parasut, kemudian mengaktifkan sistem pendorong untuk mencapai target.
Mother of All Bombs bekerja dengan prinsip termobarik. Bom ini meledak beberapa meter di atas permukaan tanah, bukan saat menyentuh tanah. Ledakan awal menyebarkan bahan bakar berawan yang kemudian di-detonasi dalam ledakan kedua. Efeknya adalah gelombang kejut yang sangat besar dan menghisap oksigen di area ledakan. Fenomena ini menciptakan kehampaan parsial yang dapat meruntuhkan bangunan dan menyebabkan kerusakan internal serius pada makhluk hidup dalam radius efeknya. Target utamanya adalah gua, terowongan, dan bunker yang sulit dijangkau oleh bom konvensional lainnya.
Daya hancur Mother of All Bombs memang sangat signifikan. Kekuatan ledakannya setara dengan 11 ton TNT. Sebagai perbandingan, bom yang digunakan dalam Perang Dunia II memiliki kekuatan ledakan yang jauh lebih kecil. MOAB mampu menciptakan kawah besar dan gelombang kejut yang merusak dalam radius ratusan meter, serta efek tekanan udara yang mematikan dalam jarak yang lebih luas.
Meskipun Mother of All Bombs telah dikembangkan sejak awal tahun 2000-an, penggunaannya dalam operasi tempur nyata sangat terbatas. Satu-satunya penggunaan yang tercatat adalah pada April 2017, ketika Amerika Serikat menjatuhkan MOAB di provinsi Nangarhar, Afghanistan. Targetnya adalah kompleks terowongan yang digunakan oleh kelompok teroris ISIS. Penggunaan ini menunjukkan kapabilitas MOAB dalam menghancurkan target yang tersembunyi dan diperkuat di medan yang sulit.
Narasi mengenai potensi penggunaan Mother of All Bombs dalam skenario konflik dengan Iran muncul sebagai bagian dari analisis strategis. Iran dikenal memiliki fasilitas nuklir dan militer yang terlindungi, beberapa di antaranya berada jauh di bawah tanah dan sangat diperkuat. Dalam konteks ini, senjata seperti MOAB dapat dianggap sebagai opsi untuk menetralkan target-target tersebut tanpa perlu menggunakan senjata nuklir. Namun, penting untuk dicatat bahwa ini masih dalam ranah spekulasi dan analisis potensi,