PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah menetapkan tarif listrik untuk periode 11 hingga 17 Mei 2026. Penetapan ini menjadi informasi krusial bagi jutaan pelanggan, terutama pengguna meteran listrik token yang mengandalkan pembelian pulsa listrik prabayar. Memahami harga token listrik Mei 2026 dan cara perhitungannya sangat penting untuk mengelola pengeluaran rumah tangga.
Artikel ini akan menyajikan simulasi pembelian token listrik Rp 100.000 dan berapa kilowatt-hour (kWh) yang akan didapatkan, berdasarkan tarif listrik Mei 2026 yang berlaku. Informasi ini diharapkan dapat memberikan gambaran jelas bagi masyarakat.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui PLN secara berkala melakukan penyesuaian tarif listrik. Untuk periode 11 hingga 17 Mei 2026, tidak ada kenaikan tarif listrik bagi pelanggan non-subsidi. Hal ini berarti tarif dasar listrik tetap sama dengan periode sebelumnya, menjaga stabilitas biaya listrik bagi rumah tangga dan bisnis.
Penetapan tarif ini didasarkan pada empat faktor utama: kurs rupiah, harga minyak mentah Indonesia (ICP), inflasi, dan harga batu bara acuan (HBA). Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus keberlangsungan penyediaan listrik nasional.
Bagi pengguna meteran listrik token, pembelian pulsa listrik tidak hanya mencakup harga dasar kWh, tetapi juga ada komponen biaya lainnya. Sebagai contoh, pembelian token listrik Rp 100.000 akan mengalami beberapa potongan sebelum dikonversi menjadi kWh.
Berdasarkan data dan perhitungan yang berlaku, berikut adalah simulasi KWh yang didapat dari pembelian token listrik Rp 100.000 untuk golongan R1/TR 1.300 VA: